“Saya ini memang gila, edan, sinting. Gila kebersihan!”

” Aduh sampah, aduh sampah, jadi masalah… Lalalalalaaa”
” Lingkungan, sekarang sudah kotor…Syalalalalalalaaaa”
“Buang sampah, buang sampah dipinggir kali..dataang hujan, banjir terjadiii…”
Itulah sebait lagu  yang dinyanyikan Pak Sariban di jalanan kota Bandung pagi itu. Kakek 74 tahun itu tampak begitu bersemangat bernyanyi bersama anak-anak muda. Sepertinya, tidak ada pegiat CFD di Bandung yang tidak mengenal Pak Sariban, atau bahkan mungkin beberapa sudah merasakan ‘semprotan’nya.

“Memang pertama kali saya dianggap orang gila. Bener, orang sinting, orang edan. Gila kebersihan” ujar pak Sariban memperkenalkan diri. Namanya singkat saja, Sariban. Laki-laki kelahiran Magetan, 7 Agustus 1943, ini dengan bangga menyebutkan profesinya sebagai Relawan Peduli Lingkungan Hidup Bersih. Jabatan yang dia sandang sejak 34 tahun yang lalu.

     Setiap hari, bapak empat anak itu pergi dari rumahnya untuk membersihkan jalan-jalan di Kota Bandung. Sebuah sepeda tua dengan papan bertuliskan “Ingat kebersihan sebagian dari iman,” menemaninya menjalankan tugas mulia itu. Sepeda itu telah dimodifikasi sesuai tugasnya. Di bagian belakang sepeda, terpasang dua tempat sampah untuk menampung sampah-sampah yang dipungutnya. Peralatan kebersihan seperti sapu lidi, karung, sekop, arit, dan alat penjepit sampah, tampak memenuhi sebuah wadah yang dipasang di bagian lain sepeda. Sariban mengaku memiliki sebuah alat penjepit sampah dari Australia, oleh-oleh dari seorang warga Bandung yang mengaguminya.

     “Profesi” relawan dilakoni Sariban sejak 1983. Bahkan ketika ia masih tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung. Di rumah sakit itu pun, tugasnya tak jauh dari kebersihan. Ketika pensiun pada 2000, Sariban memutuskan untuk memberikan sebagian besar waktunya menjaga kebersihan di Kota Bandung. Pada 2007, suami dari Sukim ini memulai sebuah proyek pribadi yang dijalaninya secara rutin.

     Dua kalisehari, pagi dan sore, Sariban membersihkan sampah di Jalan Pahlawan Kota Bandung. Ia menempuh perjalanan kurang lebih 2 kilometer dari rumahnya ke Jalan Pahlawan dengan menggunakan sepeda. Setibanya di tujuan, kakek 6 cucu ini mulai menyapu dan memunguti sampah yang berasal dari pepohonan atau dibuang sembarangan oleh pengguna jalan.

     Tidak hanya di Jalan Pahlawan, sosok Sariban juga bisa ditemui di sekitar Gasibu dan kawasan Dago saat Car Free Day, termasuk bila ada aksi unjuk rasa. Sariban hadir di tengah kerumunan massa, tak hanya menyapu dan membersihkan sampah, beliau juga mengajak masyarakat untuk sadar akan kebersihan. Kakek Sariban tak segan berteriak-teriak ke semua orang di sekitarnya agar tak membuang sampah sembarang. Dalam menjalankan aksinya, ia akan berpakaian kuning, membawa dua tong sampah untuk sampah organik dan an-organik.

“Kebersihan itu sebagian dari iman dan Allah menciptakan alam semesta ini. Kalau bukan hambanya yang memelihara, siapa lagi? Kita sebagai hamba Allah harus bisa menjaga lingkungan,” tuturnya bijak.

     Ucapannya bukan omong kosong. Selama puluhan tahun kakek murah senyum ini telah bergelut dengan sampah. Tidak hanya sampah di pinggiran jalan, tapi juga pamflet atau poster yang menempel di tembok-tembok milik publik. Itu semua dilakukan tanpa bayaran. Inilah pahlawan yang sebenarnya, berjuang demi kebaikan yang diyakini dengan konsisten. Mari kita mulai!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *